Entah Siapa Penulisnya Tapi Sungguh
Bolu Pisang
dan Es Krim ~
(Baca sampai
habis jika ada rasa sedih menyeruak bahkan sampai airmata anda mengalir maka
bersyukur)
"Ma,
kakak ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim," rengek Dika putra
sulungku. Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila
si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat
berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.
"Sabar
ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu," janjiku, padahal aku pun tahu
tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang
pengobatan ketika almarhum suami sakit dulu.
Dika
cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya
sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.
Ah
seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti
tak sekecewa ini.
Keterpurukan
hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan
kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit,
walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun
menumpuk.
Ketika suami
akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk
dilunasi.
Aku pasrah.
Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.
Bukan tak
mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri
bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja
rumah tangga yang membawa balita.
Sejak itu
aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue.
Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.
(Mbak, bisa
buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.
Aku
bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu
dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.
(Bisa Mbak,
mau berapa loyang?)
(2 loyang,
ngambilnya habis Zuhur bisa?)
(Bisa Mbak.)
Aku menyanggupi.
(Tapi bolu
pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja.
Anakku alergi gula.)
(Siap, Mbak.
Otw dibuat.)
(Berapa
harganya?)
(50.000
Mbak.)
(40.000 saja
ya, kan gak pakai gula.)
Aku menelan
ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung
20.000.
(Ya sudah
karena Mbak ngambil dua, aku kasih.)
(Oke, tapi
aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku
tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu.)
(Oke siap.)
Aku segera
gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti
masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi
gak perlu beli ke pasar.
Alhamdulillah
aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.
Sepuluh
ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan
sisanya untuk tambahan belanja besok.
Setelah
sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si
sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal
didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja.
Tempat
janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah
hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi
20.000.
Jam satu
kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang
memesan akan datang.
Sepuluh
menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada
tanda bila si pemesan akan datang.
Beberapa
pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.
Aku menelpon
berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti.
Si sulung
telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung
karena kepanasan.
Ting! Sebuah
pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.
(Ya Allah
Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat
habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih
kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung.)
Aku langsung
terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta
banyak ya Allah, hanya es krim saja.
Peluhku yang
sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.
Siapa yang
ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?
Ya Allah,
berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.
Sulungku
berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba.
Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es
krim seharga 5000 ya Allah.
"Dika
gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis." Dika kecilku
berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.
"Kita
pulang, Nak," ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai
mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.
Ya Allah,
beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun
begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah
sia-sia.
Ya Allah,
berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi
dan kini rasanya aku lemah.
Tak banyak
ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan
kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.
Aku baru
saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah
menunggu.
"Eh,
ibunya Dika, dicariin, untung cepat pulang."
"Ada
apa Bu?" tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku
perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi
gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku
kembali membuang anganku.
"Gini,
ibu jangan tersinggung ya." Bu Tia menatapku.
Aku
mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam
kamus hidupku.
"Papanya
anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar
laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik. "
Aku
mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.
"Masa
dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih
batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini,
untuk Dika dan adiknya." Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim
padaku.
Aku terdiam
tak sanggup berkata-kata.
"Asikkk."
Dika bersorak, aku masih bergeming.
"Lo,
yang ibu bawa itu apa?" tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua
kotak bolu pisangku.
"Bolu
pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal. "
"Wah
kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli
ya untuk cemilan."
"Benar
Bu?" Aku bertanya tak percaya.
"Iya,
berapa harganya?"
"Berapa
saja, Bu. Terserah, asal jadi uang."
"Ya
sudah." Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.
"Ya
Allah Bu ini kebanyakan ," ucapku.
"Sudah,
gak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu." Bu
Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.
Aku masih
diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya
hidup dan kini semua telah terbayar lunas.
***
Bu Tia
meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan.
Ia duduk dan
memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca.
Sungguh
zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak
tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh
dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es
krim.
Untung saja
Fahri putranya bercerita, bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus
berlangsung.
"Ma,
tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu." lapor putra
sulungnya.
"Bagus
dong, les dimana dia?"
"Gak
les kok, Ma. Orang dia miskin kok."
"Hey,
gak boleh menghina orang lain." Bu Tia melotot pada putranya.
"Gak
menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji
mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya
bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia
suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak.
Malu mungkin ya, Ma." Fahri bercerita panjang lebar.
Bu Tia
terdiam.
Ya Allah
mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi
panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.
"Ma,
bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Fachri membuyarkan lamunannya.
"Sengaja,
makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles
selai buah."
"Ohhh,
gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar."
"Lagi
pengen aja."
Bu Tia
menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak
yatim yang kelaparan di sekitarnya.
Anak yatim
itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.
***
Sepele bagi
kita namun berarti bagi mereka.
Ada kala
sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi
dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus
saja.
Jangan heran
menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita
sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.
Uang lima
puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar
dengan kinderj*y dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah
setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang
Magrib.
Bersedekah
itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan
menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.
Beruntunglah
bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah
menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita
membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?
Pengingat
diri agar lebih peka. Ingat ini salah satu kerja maqami kesholehan sosial agar
peduli tetangga, lingkungan dan madyarakat kita
Semoga
bermanfaat..

No comments:
Post a Comment