Gerakan Sosial Sepuluh Ribu

Kami Kumpulkan - Kami Salurkan - Kami Pertanggung Jawabkan

Breaking

Friday, October 23, 2020

Friday, October 23, 2020

Gasebu Kembali Menyalurkan Pakaian Layak Pakai Tahap VIII

 


Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (Gasebu)Kecamatan Reteh Hari Ini Jumat (23102020) Kembali Menyalurkan Pakaian Layak Pakai Tahap Viii Kepada Warga Jalan Indragiri Lorong Serai Sebanyak 14kk, 68 Jiwa 150 Lembar Pakaian Bertempat Di Sekretariat Gasebu Jalan Smp Pulau Kijang.














ANDA DIA DAN SAYA ADALAH KITA DALAM SEMANGAT KEBERSAMAAN.

#Gerakansosialsepuluhribu_Gasebu

#Emma_Emma_Gasebu

#Penyaluranpakaianlayakpakai

#Kamikumpulkan

#Kamisalurkan

#Kamipertanggungjawabkan

 

Thursday, October 22, 2020

Thursday, October 22, 2020

Gasebu Kembali Mendata Calon Penerima Program Pakaian Layak Pakai Tahap VIII

 


Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (GASEBU) Kecamatan Reteh hari ini Kamis (22102020) kembali melaksanakan kegiatan pendataan calon penerima program pakaian layak pakai TAHAP VIII. Kali ini pendataan dilakukan untuk warga kaum dhuafa yang beralamat di jalan Indragiri Lorong Serai sebanyak 14 KK, 142 jiwa. Pendataan dilakukan langsung oleh KOMUNITAS EMMA EMMA GASEBU sekaligus menyerahkan kupon kepada masing masing keluarga.

Penyerahan Pakaian Layak Pakai Tahap VIII akan dilaksanakan pada hari Jum"at (23102020) pukul 14.00 Wib bertempat di Sekretariat GASEBU Jalan SMP Pulau Kijang.














Thursday, October 22, 2020

Muhasabah Diri


 

Entah Siapa Penulisnya Tapi Sungguh

Bolu Pisang dan Es Krim ~

(Baca sampai habis jika ada rasa sedih menyeruak bahkan sampai airmata anda mengalir maka bersyukur)

"Ma, kakak ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim," rengek Dika putra sulungku. Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.

"Sabar ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu," janjiku, padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan ketika almarhum suami sakit dulu.

Dika cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.

Ah seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti tak sekecewa ini.

Keterpurukan hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk.

Ketika suami akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi.

Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.

Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita.

Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.

(Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.

Aku bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.

(Bisa Mbak, mau berapa loyang?)

(2 loyang, ngambilnya habis Zuhur bisa?)

(Bisa Mbak.) Aku menyanggupi.

(Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja. Anakku alergi gula.)

(Siap, Mbak. Otw dibuat.)

(Berapa harganya?)

(50.000 Mbak.)

(40.000 saja ya, kan gak pakai gula.)

Aku menelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 20.000.

(Ya sudah karena Mbak ngambil dua, aku kasih.)

(Oke, tapi aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu.)

(Oke siap.)

Aku segera gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi gak perlu beli ke pasar.

Alhamdulillah aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.

Sepuluh ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan sisanya untuk tambahan belanja besok.

Setelah sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja.

Tempat janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi 20.000.

Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang.

Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada tanda bila si pemesan akan datang.

Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.

Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti.

Si sulung telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan.

Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.

(Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung.)

Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja.

Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.

Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?

Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.

Sulungku berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5000 ya Allah.

"Dika gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis." Dika kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.

"Kita pulang, Nak," ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.

Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia.

Ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah.

Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.

Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah menunggu.

"Eh, ibunya Dika, dicariin, untung cepat pulang."

"Ada apa Bu?" tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku.

"Gini, ibu jangan tersinggung ya." Bu Tia menatapku.

Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku.

"Papanya anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik. "

Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.

"Masa dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Dika dan adiknya." Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku.

Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.

"Asikkk." Dika bersorak, aku masih bergeming.

"Lo, yang ibu bawa itu apa?" tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku.

"Bolu pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal. "

"Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan."

"Benar Bu?" Aku bertanya tak percaya.

"Iya, berapa harganya?"

"Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang."

"Ya sudah." Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.

"Ya Allah Bu ini kebanyakan ," ucapku.

"Sudah, gak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu." Bu Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.

Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas.

***

Bu Tia meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan.

Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca.

Sungguh zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim.

Untung saja Fahri putranya bercerita, bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus berlangsung.

"Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu." lapor putra sulungnya.

"Bagus dong, les dimana dia?"

"Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok."

"Hey, gak boleh menghina orang lain." Bu Tia melotot pada putranya.

"Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma." Fahri bercerita panjang lebar.

Bu Tia terdiam.

Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.

"Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Fachri membuyarkan lamunannya.

"Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah."

"Ohhh, gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar."

"Lagi pengen aja."

Bu Tia menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya.

Anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.

***

Sepele bagi kita namun berarti bagi mereka.

Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus saja.

Jangan heran menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.

Uang lima puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan kinderj*y dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang Magrib.

Bersedekah itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.

Beruntunglah bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?

Pengingat diri agar lebih peka. Ingat ini salah satu kerja maqami kesholehan sosial agar peduli tetangga, lingkungan dan madyarakat kita

Semoga bermanfaat..

 

Thursday, October 22, 2020

Gasebu Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Abd Rahman

 

Keluarga Besar Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (GASEBU) Kecamatan Reteh turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya ABD RAHMAN (Abang Ipar dari Saudara Muhammad Rifa'i SEKRETARIS GASEBU) hari rabu malam kamis (21102020) pukul 23 30 Wib Semoga Almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Aamiin ya rabbal 'aalamiin.

*إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ.* .
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه، وَأَكْرِمْ نُزُلَه، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه،
وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه، وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ، وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ..
له الفاتحة..
اعوذُ بِاللهِ منَ الشَّيطاَنِ الرّجيم
بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْم ۞ أَلحَمدُ لِلّه رَبِّ العَالَمِين ۞ ألرَّحمَنِ الرَّحِِيم ۞ ملِكِ يَوْمِ الدِين ۞ إيّاكَ نَعبُدُ وَ إيّاكَ نَستعِين ۞ إهدِنَا الصِّرَاط المُستَقِيم ۞ صِرَاطَ الَذِينَ أنعَمتَ عَليْهِم، غَيْرِالمَغضُوبِ عَليْهِم وَلاَالضَّالِّين ۞
آمِين.

Wednesday, October 21, 2020

Wednesday, October 21, 2020

Gasebu Turut Berduka Cita atas wafatnya KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA

 


Keluarga Besar Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (GASEBU) Kecamatan Reteh turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya *KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA.*, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Semoga Almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Aamiin ya rabbal 'aalamiin.

*إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ.* .
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه، وَأَكْرِمْ نُزُلَه، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه،
وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْه دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه، وَأَدْخِلْه الْجَنَّةَ، وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ..
له الفاتحة..
اعوذُ بِاللهِ منَ الشَّيطاَنِ الرّجيم
بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْم ۞ أَلحَمدُ لِلّه رَبِّ العَالَمِين ۞ ألرَّحمَنِ الرَّحِِيم ۞ ملِكِ يَوْمِ الدِين ۞ إيّاكَ نَعبُدُ وَ إيّاكَ نَستعِين ۞ إهدِنَا الصِّرَاط المُستَقِيم ۞ صِرَاطَ الَذِينَ أنعَمتَ عَليْهِم، غَيْرِالمَغضُوبِ عَليْهِم وَلاَالضَّالِّين ۞
آمِين.

Sunday, October 18, 2020

Sunday, October 18, 2020

GASEBU Rapat Evaluasi Triwulan I tahun 2020

 


Gerakan Sosial Sepuluh Ribu ( GASEBU) Kecamatan Reteh hari Minggu (18102020) bertempat di Sekretariat GASEBU Jalan SMP Pulau Kijang melaksanakan kegiatan Rapat Evaluasi Triwulan I tahun 2020 (Sesuai amanat AD ART Gasebu). Rapat dihadiri oleh Pembina Gasebu Bapak dr. Iswandi, H Aflizaruddin, H. Azwar Hasan. Inisiator GASEBU Nahrawi dan Jajaran Pengurus Ketua H Jalaluddin Husain, Sekretaris Muhammad Rifai, Bendahara Erlina serta Anggota Bapak Nawarlis A Rahman, Abd Muin, khair serta komunitas Emma emma Gasebu. Adapun agenda Rapat yang dibahas diantaranya :
1. Evaluasi donasi yang masuk baik berupa dana, pakaian layak pakai, Alqur'an.
2. Evaluasi penyaluran donasi baik berupa dana dan pakaian layak pakai untuk kaum dhuafa.
3. Evaluasi mekanisme pelaporan donasi yang masuk dan keluar.
4. Rencana strategis terkait kemungkinan adanya penerimaan dan penyaluran Sembako
5. Laporan Tindak lanjut kepengurusan badan hukum / legalitas Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (GASEBU) yang sedang berjalan.
6. Tindak lanjut kegiatan kewirausahaan dalam rangka mencari sumber pemasukan yang halal dan tidak mengikat bagi gasebu (diantaranya yang sudah berjalan yakni pembuatan atang atang) dan beberapa kegiatan usaha alternatif lainnya.
Kegiatan berjalan dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan.
ANDA DIA dan SAYA adalah KITA dalam SEMANGAT KEBERSAMAAN

Saturday, October 17, 2020

Saturday, October 17, 2020

Posting Sedekahmu


 "Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah : 271)

"Orang-orang yg menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pd mereka dan mereka tidak bersedih hati." (QS. Al-Baqarah : 274)

Buat teman-teman yg menjadi jembatan kebaikan buat orang lain, teruslah posting-posting kebaikan di sosmed, trus isi konteks yg positif di sosmed, krn kalau bukan kita yg mengisinya, maka sosmed hanya akan diisi konten-konten unfaedah..

Jgn pernah takut dicaci, maki, hina orang lain, jgn pernah berhenti hanya karena penilaian orang lain, krn masih byk saudara-saudara kita masih membutuhkan pertolonganmu.

Intinya tetap JAGA NIAT hanya mencari Ridho Allah.

 

Ustadz Berri El-Makky






 

Friday, October 16, 2020

Friday, October 16, 2020

Saat Salurkan Donasi Untuk Kaum Dhuafa, Gasebu Dikunjungi PAO

 


KILASRIAU.com   - Tidak ada habisnya Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (GASEBU) Kecamatan Reteh terus mengalirkan donasi pakaian lguna untuk kaum dhuafa bertempat di Sekretariat Gasebu Jalan SMP, Jum'at (16/10)

Ketua Gasebu H Jalaluddin Husain mengatakan bahwa kegiatan penyaluran donasi pakaian lguna ini merupakan tahap ke VII untuk kaum dhuafa yang beralamat di Jalan Persatuan, Gang Setia dan Gang PLN sebanyak 18 KK, 78 Jiwa dan 174 lembar pakaian layak guna.

"Sebelum penyaluran ini kita telah melaksanakan proses survei dan pendataan sekaligus penyerahan kupon oleh emma emma Gasebu pada hari Rabu, 14 Oktober 2020," ucapnya.

Bersempena kegiatan hari ini juga di sekretariat Gasebu mendapatkan kunjungan dari Keluarga Besar Pallapi Arona Ogi'e (PAO) sekaligus menyerahkan donasi kepada Gasebu untuk disalurkan kepada kaum dhuafa.

"Alhamdulillah di hari yang penuh berkah kita menerima kunjungan silaturrahmi dari PAO. Kedatangannya ini juga menyerahkan donasi kepada Gasebu untuk disalurkan kepada kaum dhuafa," sebutnya.

Selanjutnya, Etto'e yang merupakan perwakilan PAO mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan sosial yang telah dilakukan Gasebu dan ini tentunya memberikan motivasi bagi kader kader PAO yang ada di Kecamatan Reteh.

"Alhamdulillah PAO juga sudah melakukan gerakan yang sama untuk membantu kaum dhuafa dalam berbagai kegiatan sosial dibawah arahan ketua DPP PAO Bapak H Edi Sindrang dan Sekjen PAO Anawawik (Panglima PAO). Semoga kedepan PAO dan Gasebu bisa bersinergi dalam melaksanakan kegiatan sosial. Dan hari ini juga secara spontan kita mengalirkan donasi untuk kaum dhuafa melalui Gasebu, "jelasnya.

Dikesempat itu juga Inisiator Gasebu Nahrawi bersyukur karena sampai tahapan ke VII ini Gasebu tetap istiqomah melaksanakan kegiatan Penyaluran Pakaian Layak Guna dan antusias masyarakat penerima juga sangat luar biasa yang berpartisipasi dengan hadirnya semua perwakilan keluarga di Sekretariat untuk memilih dan menerima langsung pakaian yang akan kita

"Memang sedikit berbeda dari kegiatan sebelumnya karena hari ini juga tidak terduga pengurus Gasebu menerima kunjungan dari anggota PAO dan secara kebetulan melakukan undangan pernikahan keluarga besar PAO serta menyerahkan donasi untuk kaum dhuafa," kata Nahrawi.

Inisiator terakhir Gasebu tidak lupa untuk terimakasih kepada para donatur atas kepercayaannya kepada Gasebu untuk mengalirkan Pakaian layak pakai semoga berkah menjadi ladang amal dan bermanfaat bagi penerima.



Sumber: Suryadi Rahman /  Editor: Habibie

 

Friday, October 16, 2020

Gasebu Kembali Salurkan Donasi Pakaian Layak Pakai Tahap VII Ke Kaum Dhuafa

 


Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (GASEBU) Kecamatan Reteh hari ini Jum'at (16/10/2020) kembali menyalurkan donasi PAKAIAN LAYAK PAKAI TAHAP VII bertempat di Sekretariat GASEBU Jalan SMP bekerja sama dengan DAPM PADUPPAI MANDIRI. Donasi disalurkan kepada masyarakat di Jalan Pahlawan, Gang Setia dan Gang PLN sebanyak 18 KK, 78 jiwa 174 lembar pakaian.


























ANDA DIA dan SAYA adalah KITA dalam SEMANGAT KEBERSAMAAN


#GerakanSosialSepuluhRibu_GASEBU

#Emma_Emma_Gasebu

#KamiKumpulkan

#KamiSalurkan

#KamiPertanggungjawabkan

Translate

Beriklan Sambil Sedekah hanya ada di www.gasebu.com - Pelanggan Makin Ramai Sedekahpun Jalan

Beriklan Sambil Sedekah hanya ada di www.gasebu.com - Pelanggan Makin Ramai Sedekahpun Jalan
Pasang Iklan disini Syaratnya sangat mudah dan bermanfaat, cukup menjadi anggota Gerakan Sosial Sepuluh Ribu (GASEBU) jadi hanya dikenakan Biaya Rp.10.000/bulan dan akan di Kumpulkan untuk Donasi Kegiatan Sosial untuk Kaum Dhuafa